Antara Cinta dan Pengen
Ayatullah Murthada Muthahhari menuliskan dalam bukunya bahwa
satu hal yang paling tegas dalam falsafah hindu dan kristen adalah cinta.
Mereka mengatakan bahwa seseorang harus memberi kasih sayang
pada segala sesuatu dan berusaha agar cinta itu terwujud, dan jika cinta itu
sudah terwujud, apa yang menghalangi orang untuk tidak mencintai kita?. Orang
jahat pun akan mencintai kita. Karena mereka telah melihat cinta yang lahir
dalam diri kita.
Tetapi tidak cukup hanya sekedar menjadi manusia cinta,
manusia harus berakidah pula. Sebagaimana kata Gandhi; “ini adalah agamaku”.
Cinta harus selaras dengan realitas, dan jika cinta sudah selaras dengan
realitas, cinta akan mempunyai jalan yang akan diikutinya, dan mengikuti suatu
jalan, suka atau tidak akan menciptakan musuh.
Oleh karena itu, dalam ruang kehidupan tidak terlepas dari ruang
lingkup sosial, budaya, dan alam semesta. Manusia hidup pastinya beririsan dengan norma sosial. Kondisi seperti
itulah terkadang terucap pada diri sendiri “kenapa ya, kebaikanku tidak dibalas
dengan kebaikan pula”. Karena suka atau tidak itu akan menciptakan musuh.
Ada sebuah konsepsi mendasar dalam kehidupan bermasyarakat. Cinta
itu akan menular, kebaikan itu akan bercerita dari mulut kemulut begitupun
sebaliknya.
Terkadanag dalam menghadapi perkembangan zaman kita dituntut
untuk bisa dalam segala hal. Harapan orang tua tentunya besar, misalnya seorang
petani menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan dengan harapan anaknya tidak
menjadi petani ataupun sebaliknya menjadi petani yang inovatif. Nah, disini
kemudian beberapa orang tua mempercayai penuh kepada lembaga pendidikan agar
anaknya menjadi orang yang diinginkan. Disisi lain beberapa orang tua menuntut
anaknya untuk bisa ini dan itu belum lagi anaknya dibandingkan dengan anak
tetangga. Faktor-faktor seperti ini yang menjadi tren sekarang baik itu bicara
kesehatan mental yang mengakibatkan banyaknya kasus bunuh diri.
Ada juga beberapa orang melampiaskan atau mendapatkan
sesuatu secara instan dengan bermain judi online. Awalnya emang menang dan pada
akhirnya ia harus ketergantungan dengan yang instan. Tentunya belum cukup sampai
disitu, datang lagi yang namanya aplikasi pinjaman online. Terus uangnya
berputar disitu dan pada akhirnya hutangnya menumpuk begitupun orang
disekitarnya kerap mendapatkan telpon dari aplikasi online tersebut.
Tentunya contoh seperti ini kerap terjadi dalam masyarakat. Pondasi
yang ditanam tidak hanya cinta tentunya harus berakidah pula.

Komentar
Posting Komentar